Jumat, 25 Februari 2011

Bahan Renungan

Seorang akademisi muda yang cerdas mengisi aplikasi untuk posisi manajerial

di

sebuah perusahaan besar. Dia lulus pada interview tahap pertama, dan tahap

selanjutnya adalah interview dengan jajaran direksi.

Sang direktur menemukan prestasi-prestasi cemerlang dalam CV anak muda

tersebut.

Sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, anak muda tersebut selalu

mendapat

peringkat pertama.

Melihat prestasi-prestasi tersebut, sang direktur pun bertanya: “Apakah

Anda

menerima beasiswa semasa sekolah dan kuliah?”

Anak muda itu menjawab, “Tidak.”

Direktur bertanya lagi: “Apakah ayah Anda yang membayar biaya sekolah Anda?

Anak muda itu menjawab, “Ayah saya telah meninggal dunia ketika saya baru

berumur satu tahun. Seluruh biaya sekolah saya dibayarkan oleh Ibu.”

Direktur bertanya, “Di mana ibumu bekerja?”

Anak muda itu menjawab, “Ibu saya bekerja sebagai seorang pencuci pakaian.”

Direktur itu meminta anak muda tersebut untuk menunjukkan tangannya.

Anak muda itu menunjukkan kedua tangannya yang sangat halus dan sempurna.

Direktur bertanya lagi: “Pernahkah Anda membantu ibu Anda mencuci pakaian

sebelumnya?”

Anak muda itu menjawab, “ Tidak pernah. Ibu saya selalu menginginkan saya

belajar dan membaca banyak buku. Lagi pula, Ibu mencuci baju jauh lebih

cepat

ketimbang saya.”

Direktur tersebut kemudian berkata, “Saya punya satu permintaan. Ketika

nanti

kamu sampai di rumah, cuci dan bersihkan tangan ibumu, kemudian, temui saya

besok pagi.”

Anak muda tersebut merasa kesempatannya mendapat pekerjaan tersebut sangat

besar. Ketika dia sampai di rumah, dengan begitu gembira ia meminta izin

kepada

ibunya agar ia boleh mencuci tangan beliau.

Ibunya merasa sedikit asing, aneh, juga bahagia dan perasaan-perasaan

lainnya

bercampur jadi satu. Sang Ibu kemudian memberikan kedua tangannya kepada

sang

anak.

Anak muda tersebut membersihkan tangan Sang Ibu perlahan. Airmatanya mulai

menetes saat itu. Ini pertama kalinya ia menyadari bahwa tangan ibunya

sudah

penuh dengan kerutan, dan terdapat banyak memar di sana

. Beberapa memar

sepertinya terasa begitu sakit, sampai-sampai Sang Ibu menggigil ketika

memar

tersebut terkena air ketika dibersihkan.

Ini pertama kalinya anak muda tersebut menyadari bahwa kedua tangan yang

sedang

dibersihkan inilah yang digunakan Sang Ibu setiap hari untuk mencuci

pakaian

banyak orang, sehingga Sang Ibu dapat membiayai biaya sekolah anaknya.

Memar-memar yang ada di tangan Sang Ibu adalah harga yang harus dibayar

atas

kelulusan anak tersebut, atas prestasinya yang luar biasa, dan atas masa

depannya.

Setelah selesai mencuci tangan Sang Ibu, anak muda tersebut diam-diam

mencuci

sisa baju yang belum sempat dicuci oleh ibunya.

Malam itu, anak dan ibu tersebut berbincang sangat lama sekali.

Besok paginya, anak muda tersebut bergegas menemui sang direktur.

Direktur tersebut menangkap airmata di wajah anak muda tersebut. Ia pun

kemudian

bertanya: “Bisa Anda ceritakan apa yang telah Anda lakukan kemarin dan apa

pelajaran yang Anda dapat dari sana?”

Anak muda tersebut menjawab, “Saya mencuci tangan Ibu saya, dan kemudian

saya

menyelesaikan sisa cucian Ibu yang belum tercuci.”

Direktur itu bertanya lagi, “Tolong ceritakan perasaan Anda.”

Anak muda itu menjawab,

1. Saya sekarang tahu apa arti apresiasi. Tanpa ibu saya, tidak akan pernah

ada

seorang

saya yang sukses hari ini.

2. Dengan bekerja sama serta membantu Ibu, saya baru menyadari betapa sulit

dan

beratnya Ibu menjalani pekerjaannya.

3. Saya datang hari ini untuk mengapresiasi penting dan bernilainya

hubungan

keluarga.

Direktur tersebut kemudian berkata, “Inilah yang saya cari dari seorang

calon

manager. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan

orang

lain, seseorang yang tahu persis perjuangan orang lain untuk mengerjakan

sesuatu, dan seseorang yang tidak akan menempatkan uang sebagai tujuan

hidup

satu-satunya. Anda diterima!”

Selanjutnya, anak muda ini pun bekerja dengan begitu giat, dan menerima

respek

serta penghormatan dari anak buahnya. Setiap karyawan dalam tim yang

dipimpin

anak muda itu bekerja dengan penuh semangat. Performa perusahaan meningkat

sangat drastis.

Bapak dan Ibu yang baik, seorang anak, yang dijaga dan dibiasakan untuk

mendapatkan apapun yang diinginkannya akan mengembangkan “mentalitas

meminta”,

dan akan selalu meletakkan dirinya sebagai pusat dan prioritas untuk setiap

hal.

Dia akan menjadi tidak peduli terhadap usaha keras orangtuanya untuk

membiayai

segala keperluan hidupnya. Ketika ia mulai memasuki dunia kerja, dia

mengasumsikan bahwa setiap orang harus mendengarnya, dan ketika ia menjadi

seorang manager, dia tidak akan pernah tahu perjuangan setiap karyawan di

bawahnya dan akan selalu menyalahkan orang lain untuk permasalahan yang

timbul.

Untuk individu semacam ini, yang mungkin sangat baik secara akademis,

mereka

sangat mungkin akan sukses untuk sementara waktu, tapi pada akhirnya mereka

tidak bisa benar-benar merasakan apa itu keberhasilan.

Dia akan sering mengeluh, penuh kebencian, dan terus berjuang dengan cara

yang

kasar.

Jika kita adalah tipe orangtua yang “protektif” seperti ini, apakah kita

tetap

benar-benar menunjukkan rasa cinta kita kepada mereka jika kita justru

menghancurkan karakter dan masa depan anak-anak kita itu?

Anda dapat berjuang agar anak Anda tinggal di rumah yang besar, makan

makanan

yang enak dan bergizi, belajar memainkan piano, menonton televisi Big

Screen.

Tapi, ketika Anda memotong rumput, biarkan mereka ikut merasakan pengalaman

memotong rumput. Setelah mereka makan, biarkan mereka mencuci piring-piring

mereka sendiri bersama dengan kakak dan adik mereka.

Ini bukan karena Anda tidak mampu mempekerjakan seorang asisten rumah

tangga,

tapi karena Anda ingin mereka mengerti, tak peduli seberapa kaya orang tua

mereka, suatu hari rambut orangtua mereka akan memutih, sama seperti Ibu

dari

anak muda pada cerita di atas

- Internet -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar